7 Bajak Laut Terhebat Di Dunia

Pernah mendengar Bajak Laut? Mungkin kita menganggap itu hanya cerita khayalan saja, tapi di sini sedikit saya mau memperkenalkan beberapa kapten bajak laut yang pernah berjaya pada era keemasannya. Pada tahun 1600-1700. Mereka pernah berjaya di 7 samudra, menyebar teror dan merampok kapal2 dagang kolonialis. Mereka adalah Bajak Laut yang terkenal di masa-nya dan memberikan banyak inspirasi hingga saat ini


1. Henry Morgan -The King of All Pirates
Henry Morgan atau morgan ‘the terrible’ adalah salah satu yang paling k ejam dari bajak laut, dengan keberaniannya, kebrutalan, dan kecerdasan, membuat dia yang paling ditakuti, dan dihormati sepanjang masa bajak laut. Hendry dulunya adalah seorang WelshAdmiral dan privateer, mungkin juga salah satu yang terkenal dan sukses di antara privateers dari Wales. Privateers adalah orang pribadi atau swasta kapal perang yang disahkan oleh suatu negara pemerintah dengan surat marque untuk menyerang pelayaran asing. Privateers adalah bagian dari perang angkatan laut dari beberapa negara dari 16 ke abad ke-19.


2. Bartholomew Roberts- ‘Great Pirate Roberts’ – Black Bart
Bartholomew Roberts, yang disebut sebagai ‘Great Pirate Roberts’, menjelajahi laut pada awal abad kedelapan belas. Ia menjelajahi pantai-pantai Amerika Utara dan Selatan.Roberts dikenal menyimpan begitu banyak kebencian bagi orang-orang di pulau Martinique dan Barbados, karenanya ia menciptakan bendera hitam untuk menggambarkan hal itu. Ia adalah bajak laut yang sukses besar pada masa Golden Age of Piracy. Dia menangkap kapal lebih banyak daripada beberapa bajak laut terbaik dari era ini, seperti Blackbeard atau Kapten Kidd. Ia diperkirakan telah menangkap lebih dari 470 kapal. Pada akhir hayatnya Kapten Roberts terbunuh oleh grapeshot (sejenis meriam kapal) yang mengenainya, ketika dia berdiri di dek. Setelah itu dia dikuburkan di dalam laut oleh para awak kapalnya dengan membungkusnya menggunakan layar kapal.

Kematian Roberts ‘mengejutkan dunia bajak laut, serta Angkatan Laut Inggris. Para pedagang lokal dan warga sipil bahkan berpikir jika dia tak terkalahkan, dan beberapa menganggapnya seorang pahlawan. Kematian Roberts dianggap banyak sejarah bahwa ini sebagai akhir Golden Age of Piracy.


3. William Kidd – ‘Captain Kidd’
Pada awalnya Kidd adalah seorang pelaut yang direkrut kerajaan Inggris untuk menumpas bajak laut. Kidd dibekali dengan kapal legendaris nya yaitu the Adventure Galley. Kapal tersebut dilengkapi 34 meriam dan mampu membawa 80 ABK, tapi kemudian Kapten Kidd berubah menjadi bajak laut yang bringas, cerita ini muncul setelah Kid dituduh Inggris membajak kapal.

Quedagh Merchant adalah kapal harta karun besar dari 400 ton yang pern ah di rampas oleh Kidd, di dalam kapal tersebut terdapat banyak Satin, Emas, Muslins, Perak dan beberapa barang dagangan dari Hindia Timur. Ini membuat dirinya menjadi salah satu bajak laut yang memiliki harta karun yang paling banyak.


4. Edward ‘Blackbeard’ Teach
Edward ‘Blackbeard’ Teach tidak diragukan lagi adalah salah satu bajak laut yang paling ditakuti dan paling dibenci sepanjang masa. Dengan perawakan yang mengerikan, janggut hitam lebat yang hampir menutupi seluruh mukanya. Dia adalah bajak laut Inggris yang beroperasi di sekitar Hindia Barat dan pantai timur Amerika pada awal abad 18. Dia memiliki kapal kebanggaan yang bernama, Anne’s Revenge Queen.


5. Anne Bonny
Anne Bonny adalah salah satu dari dua wanita yang menjadi bajak laut. Ketangguhan dan keperkasaannya tidak diragukan lagi karena ia bergabung dengan Jolly rogger pirate, salah satu kelompok bajak laut yang sangat disegani. Dalam sepak terjangnya di dunia bajak laut ia berduet dengan rekannya sesama wanita yaitu Mary Read. Agar bisa bergabung dalam perjalanan Rackham, Anne menyamar menjadi pria. Walaupun seorang wanita, tapi Anne juga mengikuti peperangan dan melakukan kegiatan lainnya selayaknya pria. Bahkan kru-kru Rackham ‘The Revenge’ menghormati Anne Bonny.


6. John Rackham – ‘Calico Jack’
Calico Jack adalah seorang Kapten Bajak Laut Inggris yang beroperasi di Bahama pada awal abad 18. Jack terkenal karena kisahnya yang memiliki dua awak perempuan ( Maria Read dan kekasihnya Anne Bonny ) yang tidak biasa pada saat itu waktu dan menciptakan gambar bendera bajak laut yaitu kepala tengkorak dengan pedang bersilang, kelak menjadi inspirasi untuk kisah bajak laut lainnya.

Calico Jack dan krunya pernah membajak ‘Kingston’, sebuah kapal Jamaika dan akhirnya menjadi kapal andalan mereka. Kemudian dia menaklukan di beberapa daerah Hindia Barat, mengambil beberapa kapal-kapal besar di daerah Bermuda. Calico Jack juga dianggap sebagai inspirasi dari karakter Jack Sparow. Selain itu ia juga memiliki kapal pertama dari Jack Sparow, Black Pearl.


7. Olivier Levasseur – The Buzzard
Olivier Levasseur, dengan nama panggilan La Buse atau Bouche (The Buzzard), julukan ini dikarenakan kecepatan dan kesenyapan nya dalam menghabisi musuh2nya. Pada awalnya ia menjadi seorang perwira angkatan laut setelah menerima pendidikan militer. Setelah perang Spanyol (1701-1714) berakhir ia diperintahkan untuk pulang ke rumah dengan kapalnya, tetapi dia malah bergabung dengan Benjamin Hornigold yaitu sebuah organisasi bajak laut pada 1716. Levasseur membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang baik di atas kapal, meskipun dia memiliki bekas luka di satu mata yang membatasi penglihatan nya.

Pada tahun 1720, salah satu matanya telah menjadi benar-benar buta sehingga ia mulai mengenakan penutup mata, yang mana di masa datang timbul dugaan jika setiap bajak laut identik menggunakan salah satu penutup mata.

Puncak kejayaannya adalah ketika ia merampas kapal milik portugis yaitu Galeon Nostra Senhora do Cabo yang berisikan penuh dengan barang berharga. Ketika jarahan dibagi, masing-masing bajak laut menerima setidaknya £ 50.000 guinea emas (disesuaikan dengan inflasi untuk 2008: £ 7.500.000), serta masing masing mendapat 42 berlian. Kemudian Levasseur membagi sisa emas, perak, dan benda-benda lainnya, sedangkan Levasseur sendiri mengambil salib emas.


Aurellia History / Actocha Shipwreck

Spanish expansion in the New World was rapid and by the late 1500′s Mexico City, Lima and Potosi had populations that exceeded the largest cities in Spain. It would be another half a century or more before the chief cities of colonial North America; Boston, Philadelphia, and New York, were to be founded. Colonists were granted huge tracts of land to grow tobacco, coffee and other products for export to the mainland. More important to the throne however, was the continent’s mineral wealth of silver and gold, which were vital to Spain’s continued growth.

Trade with the colonies followed a well-established system. Beginning in 1561 and continuing until 1748, two fleets a year were sent to the New World. The ships brought supplies to the colonists and were then filled with silver, gold, and agricultural products for the return voyage back to Spain.

The fleets sailed from Cadiz, Spain early in the year, following the approximate route that Columbus had taken years before. Upon arrival in the Caribbean, the two fleets would split up, the Nueva España Fleet continuing on to Veracruz, Mexico and the Tierra Firme Fleet to Portobello in Panama. Here, the ships were unloaded and the cargo of silver and gold brought aboard. For the return trip the divided fleets reassembled in Havana, then rode the Gulf Stream north along the coast of Florida before turning east when at the same latitude as Spain.

The treasure fleets faced many obstacles; the two greatest of which were weather and pirates. It was well known that the hurricane season began in late July, so for this reason the operation was timed for an earlier departure. For protection against pirates, each fleet was equipped with two heavily armed guard galleons. The lead ship was known as the capitaña. The other galleon, called the almiranta, was to bring up the rear. A recently constructed 110 foot galleon, the Nuestra Señora de Atocha, was designated the almiranta of the Tierra Firme Fleet.

The fleet departed Spain on March 23, 1622 and after a brief stop at the Caribbean Island of Dominica, the Atocha and the Tierra Firme Fleet continued on to the Colombian port city of Cartagena, arriving in Portobello on May 24th. Treasure from Lima and Potosi was still arriving by mule train from Panama City, a port on the pacific side of the Isthmus. It would take nearly 2 months to record and load the Atocha’s cargo in preparation for departure. Finally, on July 22, the Tierra Firme Fleet set sail for Havana, via Cartagena, to meet the fleet returning from Veracruz. In Cartagena, the Atocha received an additional cargo load of treasure, much of it gold and rare first year production silver from the recently established mints here and at Santa Fe de Bogata. It was late August, well into the hurricane season, before the fleet arrived in Havana.

As a military escort, the Atocha carried an entire company of 82 infantrymen to defend the vessel from attack and possible enemy boarding. For this reason, she was the ship of choice for wealthy passengers and carried an extraordinarily large percentage of the fleet’s treasure. Unfortunately, firepower could not save her from the forces of nature.

On Sunday, September 4th, with the weather near perfect, the decision was made to set sail for Spain. The twenty-eight ships of the combined fleet raised anchor and in single file set a course due north towards the Florida Keys and the strong Gulf Stream current. The Atocha, sitting low from its heavy cargo, took up its assigned position in the rear. By evening the wind started to pick up out of the northeast growing stronger through the night. At daybreak the seas were mountainous and for safety most everyone was below deck seasick or in prayer. Throughout the next day the wind shifted to the south driving most of the fleet past the Dry Tortugas and into the relatively safe waters of the Gulf of Mexico.

The Atocha, Santa Margarita, Nuestra Señora del Rosario and two smaller vessels all at the tail end of the convoy received the full impact of the storm and were not so fortunate. With their sails and rigging reduced to shreds, and masts and tillers battered or broken, the ships drifted helplessly toward the reefs. All five ships were lost, the Atocha being lifted high on a wave and smashed violently on a coral reef. She sunk instantly, pulled to the bottom by her heavy cargo of treasure and cannon.

The next day, a small merchant ship making its way through the debris rescued five Atocha survivors still clinging to the ship mizzenmast. They were all that were left of 265 passengers and crew.

Salvage attempts began immediately. The Atocha was found in 55 feet of water with the top of its mast in plain view. Divers, limited to holding their breath, attempted recovery but were unable to break into the hatches. They marked the site and continued searching for the other wrecks. The Rosario was found in shallow water and was relatively easy to salvage, but the other vessels could not be located. While the salvagers were in Havana obtaining the proper equipment to retrieve the Atocha’s treasure, a second hurricane ravaged the area tearing the upper hull structure and masts from the ship. When they returned, the wreck was no where to be found and salvage attempts over the next 10 years proved futile. However, the Santa Margarita was discovered in 1626 and much of her cargo salvaged over the next few years. But, time and events slowly erased memories of the Atocha. Copies of the ship’s register and written events of the times eventually found their way into the Archives of the Indies in Seville, Spain. These documents, like the treasure itself, were to lay in obscurity waiting for the right set of circumstances centuries later.

The twentieth century was a period of tremendous technological advancement. For the Atocha, one of the most significant occurred in 1942 when a French naval lieutenant named Jacques-Ives Cousteau developed the self-contained underwater breathing apparatus, or SCUBA for short. It allowed divers to remain underwater for extended periods of time. SCUBA contributed to the discovery of ten wrecks from the 1715 Spanish treasure fleet near Vero Beach, Florida. This highly publicized 1960′s salvage operation, conducted by Real Eight Corporation, ignited an unprecedented interest in Spanish colonial shipwreck salvage, which remains strong to this day. It was this event that drew people such as Mel Fisher into the industry and onto the path of the Atocha.

After participating in the 1715 fleet salvage operation, Mel formed a company called Treasure Salvors and began searching in earnest for the much talked about Atocha. His effort over a sixteen-year period from 1970 to 1986 is a book in itself. But, in short lead to the discovery of the Santa Margarita in 1980 and the Atocha on July 20, 1985, her hull lying in 55 feet of water, exactly as recorded by the first salvagers in 1622.

Story By thescubalady.com


Indonesia Benua Atlantis Yang Hilang


Menarik sekali artikel yang ditulis oleh Profesor Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D., di harian ini Senin, 2 Oktober 2006 tentang mitos Benua Atlantis yang ternyata adalah Indonesia. Tulisannya mengutip sebuah buku keluaran tahun 2005 karya seorang Brasil Profesor Arysio Nunes dos Santos berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization”.

Terus terang, saya sama sekali belum pernah membaca buku itu. Tetapi, penelusuran melalui dunia maya menemukan satu promosi penerbitan buku tersebut dengan gambar sampul buku yang sangat menarik dan provokatif. Sampul buku itu menampilkan Kepulauan Indonesia bagian barat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang pernah dikenal sebagai Kepulauan Sunda Besar, terdiri dari Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan yang dipersatukan oleh paparan luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda.

Jadi Paparan Sunda, atau ketika laut surut pada Kala Pleistosen Akhir menjadi daratan luas disebut dalam dunia ilmiah Geologi internasional sebagai Sundaland, adalah Benua Atlantis yang hilang menurut Profesor Santos? Sungguh membanggakan! Wajar jika kesimpulan Profesor Priyatna diakhir tulisannya bahwa Indonesia yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, harus membuat kita bersyukur, tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia (”PR”, 2 Oktober 2006).

Namun banyak ganjalan yang sangat mengganggu dengan pendapat Profesor Santos yang melambungkan nama Indonesia, atau tepatnya Sundaland, sebagai Benua Atlantis yang hilang itu. Ganjalan-ganjalan yang berkecamuk dalam pikiran saya akhirnya membawa kepada beberapa situs internet tentang Atlantis. Lalu, mouse komputer saya terdampar pada sumber awal munculnya mitos Atlantis itu, yaitu dialog Timaeus dan Critias, yang ditulis oleh Plato.

Cerita Critias

Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.

Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato.

Di luar dari distorsi yang mungkin terjadi, tulisan tentang dialog Socrates, Timaeus dan Critias tentang Atlantis yang ditulis Plato adalah sumber tertulis yang menjadi referensi utama. Dari dialog itulah tergambar suatu negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi yang bernama Atlantis. Letak negeri berada di depan selat yang diapit Pilar-pilar Hercules (the Pillars of Heracles).

Negeri itu lebih besar dari gabungan Libia dan Asia. Terdapat jalan ke pulau-pulau lain di mana dari tempat ini akan ditemui sisi lain negeri yang dikelilingi oleh lautan sejati. Laut ini yang berada pada Selat Heracles hanyalah satu-satunya pelabuhan dengan gerbang sempit. Tetapi laut yang lain adalah samudera luas di mana benua yang mengelilinginya adalah benua tanpa batas.

Di Atlantis inilah terdapat kerajaan besar yang menguasai seluruh pulau dan daerah sekitarnya, termasuk Libia, kolom-kolom Heracles, sampai sejauh Mesir, dan di Eropa sampai sejauh Tyrrhenia. Lalu terjadilah gempa bumi dan banjir yang melanda negeri itu. Dalam hanya satu hari satu malam, seluruh penghuninya ditenggelamkan ke dalam bumi, dan Atlantis menghilang ditelan laut.

Cerita tragis yang memunculkan mitos Atlantis itu, bila kita cermati memang akan mengarah secara geografis di sekitar Laut Tengah (Mediterania). Selain nama-nama Libia, Mesir, Eropa dan Tyrrhenia, disebut pula selat dengan pilar-pilar Hercules yang tidak lain adalah Selat Gibraltar (atau dalam bahasa Arab, Selat Jabaltarik), selat di Laut Tengah antara Eropa dan Afrika yang merupakan gerbang ke Samudera Atlantik. Apakah betul Atlantis sebuah benua yang lebih besar dari gabungan Libia dan Asia? Pendapat ini ditentang juga sebagai salah terjemah kata Yunani meson (lebih besar) dengan kata mezon (di antara).

Sundaland (Indoenesia)

Memang betul, konotasi Atlantis tidak harus mengacu kepada Samudera Atlantik. Tetapi berdasarkan lingkungan kesejarahan dan geografis, para ahli akhirnya berkonsentrasi mencari Atlantis di sekitar Laut Tengah, antara Libia dan Turki yang dikenal sebagai Asia pada waktu itu. Sebelum Profesor Santos berargumen bahwa Atlantis adalah Sundaland, pendapat yang paling banyak diterima adalah bahwa negeri itu ada di tengah-tengah Samudera Atlantis sendiri, yaitu di Kepulauan Azores milik Portugal yang berada 1.500 km sebelah barat pantai Portugal. Tidak ada bukti arkeologis yang mengukuhkan pendapat ini.

Tempat yang paling meyakinkan sebagai Atlantis adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah. Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan dahsyat gunung api ini mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis memang menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zamannya.

Pendapat Profesor Santos bahwa Atlantis adalah Sundaland atau Indonesia mempunyai banyak kelemahan. Pertama, tidak terdeskripsi dari cerita Solon melalui Critias bahwa Atlantis berada wilayah tropis. Kedua, deskripsi geografis di sekitar benua mitos itu mengarah semua ke Mediterania. Saya tidak tahu, lokasi mana yang ditunjuk Profesor Santos dalam bukunya sebagai selat dengan pilar-pilar Hercules.

Tetapi ia (melalui tulisan Profesor Priyatna ”PR” 2 Oktober 2006), berargumen bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung api aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Ketiga, Profesor Santos mengarahkan bingkai waktu Atlantis pada zaman es kala waktu Pleistosen. Zaman es terakhir (Wurm) terjadi pada maksimum 18.000 tahun yang lalu. Saat itu, tutupan es di kutub-kutub Bumi meluas hingga lintang 60 derajat, dan air laut di khatulistiwa surut tajam. Di Kepulauan Indonesia, sebuah pendapat mengatakan bahwa air laut surut hingga minus 140 m dari muka air laut sekarang. Maka, perairan Laut Jawa, Selat Karimata dan Laut Cina Selatan yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 100 m, berubah menjadi daratan. Itulah yang kemudian dikenal sebagai Sundaland.

Setelah 18.000 tahun yang lalu, permukaan laut mulai naik seiring dengan masuknya zaman antar-es. Muka air laut naik terus hingga sekitar 5 m di atas muka laut sekarang pada sekira 5.000 tahun yang lalu, sebelum turun kembali hingga pada posisinya sekarang. Artinya, penenggelaman Sundaland akan berjalan sangat pelan (evolutif), memakan waktu 13.000 tahun. Padahal menurut cerita Critias, Atlantis tenggelam hanya dalam satu hari satu malam!

Keempat, kebudayaan Indonesia pada Pleistosen Akhir, bahkan hingga awal Holosen (11.000 tahun yang lalu) masih budaya pengumpul hasil hutan dan berburu. Peralatannya adalah kayu, bambu dan batu, dengan rekayasa sangat sederhana. Mereka tinggal di gua-gua atau teras sungai dengan tempat bernaung dari ranting kayu dan dedaunan. Tidak ada pendapat satu pun yang menggolongkan budaya Paleolitik seperti itu sebagai budaya yang dianggap maju dan tinggi dalam pengertian yang sepadan ketika Plato menuliskan bukunya.

Sekali lagi, saya belum membaca buku Profesor Santos itu. Tetapi dari paparan tulisan Prof. Priyatna, dengan sedikitnya keempat argumen di atas, anggapan bahwa Indonesia (Sundaland) adalah Atlantis sulit untuk dapat diterima. Tentu saja walaupun tulisan ini membantah Indonesia sebagai Atlantis, kita harus tetap sangat bangga dengan Sundaland di Indonesia, karena dari ilmu-ilmu geologi, arkeologi, geografi, biogeografi, linguistik dan lain-lain, kawasan Sundaland diakui kepentingannya secara internasional. Dengan fakta-fakta ilmiah itu, seperti pendapat Profesor Priyatna Abdurrasyid, membuat kita harus bersyukur dan tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Indonesia dengan Sundaland-nya, sekalipun akan terbantah bukan Atlantis, adalah kekayaan intelektual yang tetap diakui secara internasional. (Budi Brahmantyo)

Penulis, anggota KK Geologi Terapan FIKTM-ITB, dan anggota KRCB dan IAGI.

About Us

Scuba explorer is a one of great new comers brands that majoring at scuba wears.It is created from Fun hobbies,skill,Good materials and excellent ideas.We are begin from smart way to give unbreakable products for all customers from many levels And Style.

Scuba Explorer created foradventurous,histories,myth and Many dive spot from around the world.We playing and serving the best themes And Design that all the levels get easily with high class fashion taste.
Please do not hesitate to visit our online store or any of our dive retailers now to shop for scuba explorer t-shirt.

Established 2010, Scuba Explorer has managed by own way as a distinctive scuba dive brand which passion and free-spirited lifestyle with a diving heritage.

Our design concepts are adventure, explorer and natural combine with fun in and out of the waters. The designs bring you to go to next perfect Scuba fashion level.

Scuba Explorer products are developed in Bali Indonesia. To achieve the comfortable, fine materials and top quality control. Our products give you brilliant thing with the high class services....

Proud to wear Scuba clothes will give you strong identity to be real diver. You choose scuba explorer that’s means you be scuba diving apart.

JUST WEAR IT , TASTE IT , DREAM IT !

Salam Redaksi

Tidak lengkap rasanya jika melewati bulan April tanpa membawa satu pesan kuat yang menjiwai bulan kalender semua pemerhati lingkungan dengan sesuatu yang berkaitan dengan bumi. Ya, April, kalau dirasa tidak terlalu berlebihan boleh kita sebut bulannya bumi. Meskipun perayaannya sebenarnya ”hanya” tanggal 22 April.

Setelah tanggal itu, - mungkin tepatnya, 2-3 jam setelah larut dalam berbagai event bersih-bersih, menggambar alam, pemutaran film tentang bumi, renungan untuk bumi, jalan santai, gerakan gak pake kendaraan motor,dan lain-lain-, kita semua kembali ke rutinitas kita : ”memanfaatkan” bumi!

Bahkan kita langsung dikagetkan dengan kejadian tumpahan minyak yang mengancam Gulf Mexico. Belum lagi berita ”pertarungan” eksistensi antara harimau dengan pemukiman, konflik tambang dengan hutan, dan masih banyak lagi yang hanya membuat kita mengelus dada, seakan peringatan hari bumi sudah lewat beberapa dekade lalu sampai semuanya lupa.

Syukurlah, diantara semua itu masih banyak hal yang membahagiakan. Beberapa orang yang punya ingatan kuat –tepatnya kesadaran yang kuat- dalam beberapa hari atau minggu ke depan setelah hari bumi pasti masih tetap berlaku bijak dengan bumi. Mulai dari kerjasama-kerjasama penelitian, aturan perundangan yang memihak bumi hingga kesepakatan tingkat negara. Semua itu seperti memberi energi baru bagi bumi dan sahabat-sahabatnya.

Ya, kerusakan memang terjadi, namun harus kita akui mulai ada banyak hal baik yang terjadi pada bumi kita. Masyarakat lokal mulai mengambil inisiatif yang dulunya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah dapat mengurusi hal lain yang lebih penting-mendukung aksi lokal ini-.

Reef Check melalui RCC Sembiran, Bali sedang berusaha bersama masyarakat untuk meletakkan pondasi hukum bagi segala usaha baik yang selama ini sudah dilaksanakan. Daerah Pengelolaan Laut desa yang telah terbentuk terus dikembangkan. Terkait aturan hukum, pengelola DPL mulai menyusun kerjasama multipihak untuk menggolkan DPL di tingkat Kabupaten sembari menggodok menjadi suatu Paruman Adat. Kesuksesan DPL desa di Bali ini, akan menyediakan referensi aktual dan nyata bagaimana gerakan masyarakat yang menginspirasi perubahan di level yang lebih besar.

Energi untuk melayani bumi (baca:masyarakat) ini terbentuk saat kita melihat perubahan di bumi (baca:masyarakat) yang kita layani ini.

Lets Go Blue,

Redaksi

redaksi@goblue.or.id

Berita Go Blue

Kunjungi www.GoBlue.or.id untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan serta berbagai usaha pelestarian lingkungan laut dan pesisir.

Proposal sets whaling limits
For the first time in a quarter of a century, commercial whaling on the open seas could be condoned–and scientists are working to figure out exactly how much should be allowed. Selengkapnya»

Whale feces could help oceans absorb CO2
Whale droppings have emerged as a natural ocean fertilizer which could help combat global warming by allowing the Southern Ocean to absorb more carbon dioxide, Australian scientists have found. Selengkapnya

»

UGM-WSI Kerjasama Penelitian Lumba-Lumba
Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT Wersut Seguni Indonesia (WSI) menjalin kerja sama konservasi lumba-lumba. Selengkapnya »

Perjuangan KKP Mengamankan Ikan Nusantara

Senin pekan lalu, Kapal Hiu Macan 001, kapal pengawas milik Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang dioperasikan Kapten Samson menangkap 10 kapal Vietnam yang masuk ke wilayah Indonesia. Kapal-kapal tersebut diduga kuat mencuri ikan di perairan Indonesia. Selengkapnya »

Several Different Species of Killer Whales Likely

In a report published April 22 in the journal Genome Research, scientists report finding strong genetic evidence supporting the theory there are several species of killer whales (Orcinus orca, also known as orcas) throughout the world’s oceans. Selengkapnya »

UU Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Melindungi Hak Masyarakat Lokal?

Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, M. Syamsul Maarif, mengatakan bahwa Undang-Undang (UU) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nomor 27/2007 melindungi kegiatan -kegiatan keagamaan dan adat yang dilakukan di laut. Selengkapnya »

PERINGATAN HARI BUMI 2010 dan CORAL DAY 2010

Dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh setiap tanggal 22 April, Reef Check bersama dengan PPLH turut mendukung keberlangsungan Ibu Bumi dengan mengadakan bersih pantai di Sanur bersama dengan siswa-siswi SMA yang tergabung dalam River Club binaan PPLH- Bali, acara ini juga dilengkapi dengan survey kecil dan diskusi. Mengenai apa? Selengkapnya »

Tahun 2010 ini juga menjadi momen penting bagi pemerhati terumbu karang Indonesia . Bersama dengan seluruh pemerhati karang Indonesia, Reef Check juga turut memperingati hari bumi 2010 sekaligus merayakannya sebagai CORAL DAY—Hari Karang- Indonesia 2010. Reef Check Indonesia bersama masyarakat di Bali Utara mengadakan kegiatan bersih pantai, pembersihan sampah di terumbu, lomba menggambar hiingga diskusi masyarakat. Kegiatan melibatkan siswa sekolah dasar dan menengah atas, kelompok nelayan, pengelola Daerah Pengelolaan Laut (DPL) di 3 desa, Desa Bondalem, Tejakula dan Penuktukan. Selengkapnya »

PEMENANG LOMBA PANTUN KEBERSIHAN PESISIR MYCLEANREEF

I want to see my clean reef

Looking at fishes and coral so cute
Mari kita bersikap arif

Kepada pesisir, pantai dan laut
(Diah Utami Lestari).

Karya juara pertama Lomba Pantun yang digelar Oleh MyCleanReef.Org pada bulan April yang lalu. Lomba Pantun ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta. Selengkapnya »

This Information By Go Blue - Jensy Reef Check

Please Save Our Home